Tulisan Kamu & Artikel
[Daftarin Tulisan Kamu] Pendaftaran dan Masukkan tulisan anda
Melacak “Akar” Ideologi
Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia
Tabloid Life Education – Bidang Hikmah PC IMM Jember
Abstract
Student movement is a part of history in Indonesia that always active to take a part of every change period. They called as an agent of change. However, there is not enough data, principally ideology, to explain the attribute. This article tries to investigate ideology of student movement, especially Islamic student movement in Indonesia. Among them are: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Dipo, HMI MPO, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) and Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). The article also explored their political expression
Keywords: ideologi, teologi, politik, gerakan, mahasiswa Islam
Pendahuluan
Keberadaan gerakan mahasiswa dalam konstelasi sosial politik di negeri ini tak bisa dipandang sebelah mata. Diakui atau tidak, keberadaan mereka menjadi salah satu kekuatan yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni negara. Diantara elemen-elemen gerakan mahasiswa yang memiliki pengaruh signifikan adalah gerakan mahasiswa Islam. Mereka adalah organisasi massa (ormas) mahasiswa yang memiliki basis konstituen yang jelas dan massa pendukung yang besar seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Dipo, HMI MPO, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Pada sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa gerakan mahasiswa mengalami polarisasi dalam entitas dan kelompok-kelompok tertentu yang berbeda, bahkan acapkali bertentangan satu sama lain. Hal ini terjadi karena beberapa faktor yang melingkupinya, seperti perbedaan ideologi, strategi dan lainnya.
Dalam konteks ini, upaya memahami ideologi gerakan mahasiswa merupakan hal yang sangat penting. selanjutnya….
INDONESIA SUDAH MERDEKA; OMONG KOSONG
November 23, 2007
Oleh : Muhammad Rais
Kemerdekaan sering kita artikan sebagai suatu kondisi dimana kita terbebas dari berbagai penindasan dan tekanan. Dengan kata lain, kemerdekaan adalah kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa adanya interfensi dan campur tangan pihak lain. Orang merdeka adalah orang yang telah berdaulat sepenuhnya terhadap dirinya sendiri. Sedangkan negara merdeka adalah negara yang memiliki kedaulatan untuk mengatur negaranya sendiri.
Khusus bagi bangsa Indonesia, setiap bulan agustus tepatnya tanggal 17 Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Ini pertanda bahwa sejak itu pula bangsa Indonesia telah terbebas dari penindasan dan tekanan pihak penjajah. Dengan kata lain, Indonesia telah merdeka dan bebas untuk mengatur dirinya sendiri. Tapi yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah apa betul kalau kita sudah merdeka? Apa yang telah kita dapatkan setelah 60 tahun kita merdeka?
DUA SISI DEMOKRASI
November 21, 2007
Oleh : BY: S. N. Dubey
SISI BAIK PEMERINTAHAN DEMOKRASI
1. melindungi kebebasan individual
Kebebasan merupakan sifat dasar untuk perkembangan personalitas umum. Tampa kebebasan kehidupan bagaikan kulit ari tampa urat didalamnya. Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang menjamin kebebasan individual. Didalam Negara demokrasi kebebasan berpikir, berasosiasi dan kebebasan pers terjamin. Filsafat demokrasi menegaskan bahwa individual adalah tujuan atau akhiran dan kekayaan merupakan pemenuhan untuk mencapai tujuan tersebut. Demokrasi menjamin setiap keinginan seseorang didalam komunitas, bahkan akan menjadi pertimbangan. begitu pula dengan keputusan atau ketetapan pemerintah tidak luput dari sokongan bersama. Didalam Negara demokrasi tidak pantas seseorang terlukai atau mengatakan bahwa pendapatnya tidak pernah didengarkan.
Sejarah Indonesia
November 21, 2007
1968-1998
Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan yang dilakukan Orde Lama Soekarno.
Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meski hal ini dibarengi praktek korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.
Indonesia Raya (original version)
Agustus 9, 2007
Stanza 1:
Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri ’Djadi Pandoe Iboekoe
Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe
Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra’jatkoe Sem’wanja
Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja
(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja baca selengkapnya
TIPE KEPEMIMPINAN BARU
Juli 24, 2007
Akhir-akhir ini, dalam mendiskusikan kemungkinan peralihan generasi kepemimpinan, rasanya kita terlalu sering berbicara tentang tokoh tokoh yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Dalam kadar tertentu, itu sebenarnya wajar saja. Namun, pembicaraan seperti itu tidak boleh membuat kita lupa bahwa yang terpenting sebetulnya bukan lagi pada soal siapa melainkan pada apa dan bagaimana bentuk kepemimpinan baru itu. Dengan kata lain, yang harus kita perhatikan bersama bukan lagi sekadar tokoh atau pemimpin (leader) tapi kepemimpinan (leadership).
Karena itu, pertanyaan-pertanyaan mendesak untuk kita jawab adalah, secara ideal, bentuk kepemimpinan seperti apa yang sebaiknya diterapkan oleh generasi baru nanti. Dengan berbagai tantangan di masa depan, faktor faktor apa yang akan menentukan keberhasilan seorang pemimpin? Cukupkah jika ia mewarisi begitu saja bentuk kepemimpinan yang selama ini dominan? Dalam era Orde Baru selama ini, kalau kita menggunakan tipologi yang pernah dikemukakan oleh Prof. Herbert Feith, tipe kepemimpinan yang dominan adalah tipe administrator. Dalam tipe itu, kepemimpinan didefinisikan lebih sebagai kemampuan untuk menciptakan negara modern dengan segala perangkat teknis-administratifnya.
Plus-Minus Penyederhanaan Partai
Juli 20, 2007
(Oleh: Saiful Mujani – Direktur Lembaga Survei Indonesia, peneliti Freedom Institute)
Sudah lama muncul suara bahwa jumlah partai politik terlalu banyak, akibatnya pelaksanaan pemerintahan rumit. Terlalu banyak kepentingan yang harus dinegosiasikan antara DPR dan pemerintah. Karena itu muncul gagasan untuk menyederhanakan sistem kepartaian menjadi sistem multipartai yang lebih sederhana. Dibayangkan, misalnya, jumlah partai yang mendapat kursi efektif di DPR tidak lebih dari tiga.
Electoral Threshold
Dalam demokrasi di mana pun biasa terjadi ketegangan antara keinginan untuk memaksimalkan representasi aspirasi warga yang beragam dan keinginan menciptakan pemerintahan yang efisien dan efektif. Ketegangan ini tidak mudah diatasi. Sulit membangun sistem kepartaian yang sederhana sekaligus representatif secara maksimal dalam masyarakat yang heterogen seperti Indonesia. Pasti ada yang harus dikurangi: efektivitas dan efisiensi pemerintahan atau representasi kepentingan warga di DPR.
PUISI KITA….
- khalil gibran (14)
- milis bunga matahari (52)
- milis sejuta puisi (10)
- Puisi Alam (1)
- puisi bebas (73)
- puisi cinta (100)
- SidebLog (2)
- Uncategorized (54)
- W S Rendra (2)
| [26/11/07] Berita : Kinerja Lembaga Sensor Film Masih Sangat Subyektif |
|
| [26/11/07] Berita : RUU Minerba Tutup Pintu Arbitrase Internasional |
|
| [25/11/07] Berita : Bapepam-LK Segara Terbitkan Peraturan Pendaftaran Notaris |
|
| [24/11/07] Berita : Jaksa Prapenuntutan Adelin Bantah Ada Kesalahan Prosedur |
|
| [24/11/07] Wawancara : Prof. Edi Sedyawati: Aparat Hukum Harus Segera Lindungi Cagar Budaya |
|
| [19/11/07] Fokus : Splitsing Memungkinkan Pelanggaran Azas Hukum |
|
| [6/7/06] Profil : Teguh Maramis: Partner yang Komentator Bola |
[Tentang Tekhnologi Informasi]
| Intel Kenalkan Lyndon, `Pemikir` di Desktop Detik 26/05/2005 17:08 WIB |
| Ditjen HaKI Lupa Pada IGOS? Detik 25/05/2005 11:05 WIB |
| Cisco Bangun Telko di Jalur Gaza Detik 23/05/2005 09:12 WIB |
Tanwir Nasyiatul Aisyiyah
Nurjannah : “Perlu Peningkatan Peran Dakwah Kebangsaan”
Deli Serdang- Segenap kader Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah di semua tigkatan harus berfikir bagaimana meningkatkan peran dakwah kebangsaan, dan bahkan tidak sekedar peran Dakwah kebangsaan, tetapi permasalahan keumatan, kemasyarakatan dan bernegara, semua harus menjadi perhatian kader Nasyiyah
Karl-Wilhelm Dahm: “Muhammadiyah adalah Ormas Islam Modern dan Progresif di Indonesia”
Jerman- Pada Sabtu lalu, 17/11/2007, Prof. Dr. Karl-Wilhelm Dahm (76 tahun), seorang Teolog, Sosiolog dan Professor Emeriti Instituts fur Christliche Gesellschaftswissenschaften, Evangelisch-Theologischen Fakultat, Universitat Munster, mengundang jajaran PCIM Jerman, ke rumahnya di Kinderhaus. Menurut Karl Muhammadiyah adalah Organisasi Masyarakat Islam modern dan progresif di Indonesia.
Baca selengkapnya…Khoiruddin : E-Learning Efektifkan Proses Belajar-Mengajar
Yogyakarta- Menurut Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Khoiruddin Bashori, di era teknologi informasi yang semakin maju sekarang ini, harus bisa ditekadkan untuk bisa memajukan dan juga mencerdaskan kehidupan bangsa terutama dengan memanfaatkan teknologi dan pemanfaatan teknologi informasi yang biasa disebut dengan E-learning ini diharapkan mampu jadi lebih efektif
Tanwir Nasyiatul Aisyiyah
Evi : “Nasyiyah Harus Berpolitik”
Deli Serdang- Dalam kancah nasional dan daerah, Nasyiatul Aisyiyah harus melibatkan diri secara aktif pada ranah politik, karena dengan partisipasi tersebut NA dipaksa terlibat dalam proses politik dan demikratisasi, demikian diungkapkan ketua umum Nasyiatul Aisyiyah Evi Sofia Inayati pada sela-sela acara Tanwir ke II NA di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), Deli Serdang, Sumatra Utara, Rabu (21/112007).
Tanwir Nasyiatul Aisyiyah
Evi Sofia : “Maksimalisasi Temu Regional Harus Dilakukan”
Yogyakarta- Pertemuan Regional yang telah digagas ketika Tanwir Pertama di Banten, memerlukan maksimalisasi perannya, sehingga pada Tanwir ke II di Medan tanggal 20-22 November 2007 ini harus ada rumusan yang jelas guna mendukung program tersebut, demikian dikatakan Ketua Nasyiatul Aisyiyah Evi Sofia Inayati ketika dihubungi muhammadiyah.or.id, Selasa (23/11/2007).
Ketua PDM Purworejo : “Petani selalu Identik menjadi Orang yang Rugi”
Purworejo- Ketua PDM Purworejo, H Dandung Danadi mengatakan bahwa di negara agraris ini, petani selalu identik menjadi orang yang rugi. Menurutnya hal ini di karenakan kurang adanya pemberdayaan yang kokoh di kalangan petani oleh berbagai kalangan. Selain itu ia mengatakan bahwa penyebab terjadinya kerugian itu bukan saja dari pihak terkait tetapi juga dari pihak petani sendiri.
Kunjungan Prof Dr Dien Syamsuddin ke KJRI Frankfurt: “Dialog yang Dialogis”
Jerman - Pada Kamis, 15 November ini, Prof Dr Dien Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah Pusat, berkunjung ke KJRI Frankfurt. Konsulat Jenderal Frankfurt, Bapak Eddy Setiabudhi, mengundang segenap mahasiswa dari berbagai kalangan, baik PPI maupun organisasi keagamaan, dalam acara makan malam, ramah tamah dan silaturahim di Wisma Indonesia, Niederraeder Land Str.36, 60528 Frankfurt am Main. Baca selengkapnya…[Tentang Nahdlatul Ulama]
Gus Dur: Presiden Penakut, Menag Langgar Konstitusi
Senin, 26 November 2007 19:09
Jakarta, NU Online
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sekali lagi melontarkan pernyataan keras. Ia menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden penakut. Gus Dur juga menyebut Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni telah melanggar konstitusi negara.
Presiden ke-4 RI itu mengatakan hal tersebut menyusul pencekalan intelektual Muslim asal Mesir, Nasr Abu Zayd, saat akan menjadi narasumber pada Seminar Internasional Islam di Malang, Jawa Timur, Selasa (27/11). Pencekalan itu dilakukan oleh penyelenggara acara atas perintah Menag.
| Hasyim Muzadi: Rudd Perbaiki Pandangan pada Islam Senin, 26 November 2007 19:07Jakarta, NU Online Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KHA Hasyim Muzadi menilai terpilihnya Kevin Rudd sebagai Perdana Menteri baru Australia akan dapat memperbaiki pandangan Australia kepada Islam di Indonesia.“Sekalipun tidak besar tetap ada pengaruhnya, karena Partai Buruh yang merupakan asal Rudd merupakan partai yang pernah menolak Australia mengirim pasukan ke Irak,” katanya, Senin. |
| Koperasi Annisa, Tumbuh Berbasis Bottom Up, bukan Top Down Senin, 26 November 2007 16:51Jakarta, NU Online Koperasi adalah sebuah lembaga yang seharusnya berbasiskan pada kebutuhan masyarakat. Namun, perkembangannya saat ini lebih banyak didorong dari atas, bukan oleh inisiatif dari masyarakat sehingga ketika tidak ada dukungan lagi, banyak koperasi langsung mati.Meskipun demikian, masih ada koperasi yang tumbuh dan berkembang atas inisiatif masyarakat, yaitu koperasi Annisa yang dikelola oleh Muslimat NU yang saat ini sudah memiliki 131 unit koperasi primer di seluruh Indonesia yang lokasinya berada di tiap PC Muslimat NU. |
| Lagu “Bintang Kejora” dan “Abang Tukang Bakso” Jadi “Aspalela” di Malaysia Senin, 26 November 2007 15:53Jakarta, NU Online Sebagian anak-anak Indonesia generasi 80-an dan 90-an akrab dengan lagu yang penggalan syairnya antara lain berbunyi “Kupandang langit penuh bintang bertaburan…..” ataupun “Abang tukang bakso mari-mari sini aku mau beli….”.Penggalan syair lagu berjudul “Bintang Kejora” karya AT Mahmud dan “Abang Tukang Bakso” ciptaan Mamo/Agil itu kini muncul di Malaysia dengan versi yang berbeda dengan judul “Aspalela”, lagu berirama disko serta “ngebit”. |
Senin, 19 November 2007
Rakerda DPD IMM Jawa Barat
Jakarta- Jika tidak ada halangan Pada tanggal 23-25 Desember yang akan datang, “DPD IMM Jabar akan melaksanakan Rakerda, yang bertempat di Gedung LPTC Departemen Agama Bandung. Rakerda yang diketuai oleh Nita Permatahati sebagai Panitia Pelaksana, diiringi dengan diskusi panel yang akan menghadirkan Bapak Marzuki Usman & Bapak Uum Syarif Usman”, ungkap Rusli Ketua Umum Jabar kepada www.imm.or.id Senin siang (19/11/2007). Dalam Rakerda kali ini semoga dapat menghasilkan program – program kegiatan yang terimplementasikan dengan optimal, kita tidak lagi membutuhkan rancangan – rancangan kosong belaka, namun kita juga harus dapat membuktikan bagaimana rancangan-rancangan tersebut dapat membawa panji-panji DPD IMM Jabar menjadi lebih berkibar….!
| Senin, 19 November 2007
What’s Up in PC IMM Ciputat ??? Jakarta- Rentetan acara besar cabang akan dilaksanakan oleh PC IMM Ciputat, seperti Milad ke-41 PC IMM Ciputat, SOT (School of Tought), dan Muscab. Acara yang pertama adalah milad ke-41 PC. IMM Ciputat dengan tema besar “Refleksi Kritis untuk Kesadaran Kritis.” Dalam tema ini terdapat pertanyaan terhadap siapakah refleksi dan kesadaran kritis tersebut diajukan? Terhadap kader, Pimpinan Cabang, ataukah terhadap Alumni? |
|
| Membaca… |
|
Senin, 19 November 2007 Kabar Terbaru DPD IMM Riau Jakarta- DPD IMM Riau mendapat pandangan khusus dibandingkan dengan organ ekstra kampus lainnya di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, ini terbukti dengan 3 tahun berturut-turut DPD IMM Riau satu-satunya organ ekstra kampus yang mendapat undangan khusus dari kelompok muda/belia Malaka, tutur ketua umum DPD IMM Riau, Immawan Kiki. Ini merupakan jalan baru bagi IMM untuk bisa menciptakan “Brand Image” IMM ke depan, DPD IMM Riau yang telah berhasil membawa nama IMM menjadi semakin berkibar kita harapkan dapat mempertahankan & melebarkan sayap IMM Riau ke depan. |
|
| Membaca… |
| Darul Arqom Paripurna
Diinformasikan kepada teman-teman kader imm se tanah air.DPP IMM Hari/tanggal : Rabu-selasa, 26-31 Desember 2007 persyaratan kepesertaa dapat ditanyakan di DPD IMM setempat. Konfirmasi/info jelas Tlp/sms : |
|
MAKLOEMAT PEMUDA INDONESIA
” WARISI API SUMPAH PEMUDA” (warpisuda)
Bangun Politik Persatuan Pemuda ! Percepat Alih Generasi Kepemimpinan Kaum Muda! Lawan neo –Liberalisme dan feodalisme utnuk keadilan sosial bangsa!
Tujuh Puluh sembilan tahun sudah sumpah untuk satu tanah air, satu bangsa dan menjunjung tinggi bahasa indonesia yang disuarakan kaum muda saat itu menjadi prinsip pokok perjuangan kearah pembentukan negara bangsa. Garis politik persatuan yang tercemin dari sumpah pemuda yang dinyatakan pada tanggal 28 Oktober 1928 tersebut pada hakikatnya adalah sebuah kesadaran bersama atas situasi tata kehidupan berwatak kapitalistik serta belitan feodalisme yang mengahmbat kemajuan |
|
| Membaca… |
Menembus Batas Pencerahan:
Genealogi Gagasan Muhammadiyah Dan Epistemologi Alternatif
Oleh: Yayan Sopyani al-hadi
Istilah pencerahan peradaban merupakan tema sentral muktamar Muhammadiyah beberapa bulan yang lalu di Malang Jawa Timur. Namun, sampai saat ini Muhammadiyah belum bisa merumuskan gagasan tersebut dalam tataran praksis sosial, pergerakan dan amal usaha. Hal ini dikarenakan gagasan tersebut masih menyisakan problem metodologis.Tak heran bila Majlis Tarjih Dan Pengembangan Pemikiran Islam telah berganti nama menjadi Majlis Tarjih dan Tajdid. Hal ini menunjukan bahwa gagasan pencerahan peradaban masih menggantung dalam diskursus ontologis, belum dirumuskan secara epistemologis dengan rinci sebagai cara pandang dari teologi dan ideologi yang dijadikan sandaran.
Epistemologi sering dipahami sebagai filsafat pengetahuan yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat serta scope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Epistemologi diawali dengan rasa skeptis ( keragu-raguan) atas segala pernyataan dan kenyataan.
Dalam sejarah filsafat Barat, Plato sering dianggap sebagi pengagas epistemologi karena dia yang pertama kali mencoba mengolah dasar- dasar pengetahuan. Setelah mengalami masa kegelapan (dark ages), didunia Barat epistemologi dibahas ulang oleh bapak filsafat modern, Rene Descartes. Dengan mengawalinya dari cogito ergusum ( aku berpikir maka aku ada) maka rasionalisme dibangun. Tak lama kemudian rasionalisme diserang oleh kaum positivis dengan pendekatan empiris. Kemudian, rasionalisme dan empirisme mendapat eklektisasi (pembauran) dari seorang filosuf Jerman, Imanuel Kant dengan istilah kritisisme. Memang dialetika wacana epistemologi terus bergejolak. Dekontruksi antar teori dan beragam pendekatan terus berlanjut.
Kritik Nalar epistemologi Islam
Adalah Muhammad Abed al- Jabiri, seorang pemikir muslim kontemporer, yang mengungkap genealogi dan arkeologi pemikiran Islam dari abad ke 2 hijriyah sampai membekas pada setiap pemahaman dan sikap keberagamaan pada masa selanjutnya hingga sekarang. Bagi Al-Jabiri, dalam bukunya Naqd al- Aql al- ‘Aroby (Kritik Nalar Arab), ada tiga tipologi kerangka pikir atau paradigma yang mempengaruhi peradaban Islam.
Pertama, Bayani. Sebagai aktivitas keilmuan, bayan adalah nama aphoris dari proses penampakan dan menampakan (al-zhuhur dan al-izhhar) serta aktivitas memahami dan memahamkan ( al-fahm dan al-ifham). Sebagai epistemologi, bayan adalah kumpulan
prinsip dasar, ketentuan dan kekuatan yang menetukan orientasi orang yang mencari pengetahuan dalam medan kognitif retoris tanpa didasari dan tanpa bisa mengambil pilihan lain. Prinsip dasar dan prosedur epistemologi bayan adalah pasangan yang bersipat oposisi biner: kata/ makna, al-asl/ al-far’u (pokok/cabang), dan substancia/ accidens. Pasangan yang pertama dan kedua adalah totik tolak pemikiran dan metodologinya, sedangkan pasangan ketiga membangun perspektif berpikir dan mempengaruhinya. Sehingga dalam berbagai perspektif penganut nalar bayan sangat menekankan pada penjelasan nash ( tekstual-ekspalanif). Sandaran pada nash ini tidak bisa keluar dari prinsip-prinsip dasar bahasa Arab yang mengungkungnya. Tentunya dengan tidak melihat adanya bangunan kausalitas antara kata dan makna.
Kedua, Burhani. Dalam epistemologi ini sumber pemahaman dan pemknaan didapatkan dari akal dengan pendekatan demontratif- rasional-kontekstual (burhani al-waqi’). Epistemologi ini adalah pembauran dan usaha harmonisasi yang dilakukan para filosof muslim antara tata bahasa Arab dengan logika Yunani dan antara teologi dengan filsafat.
Ketiga, Irfani. Epistemologi ini menekankan sumber pengetahuan pada pengalaman mistik ritual (experiental-gonstik) dengan pendekatan al-kasaf (unveiling, decouverte) dan al-‘ayan ( intuituf). Nalar irfani, didukung dan dikembangkan oleh kaum sufi dan dipraktekan oleh tarekat- tarekat sufiyah.
Ketiga nalar ini menjadi arus utama epistemologi pemikir yang beraliran As’ariyah dalam teologi atau Ahl as-sunnah Wa al-Jam’aah dalam politik. Namun sayang, ketiga epistemologi yang lebih bersifat tipologis ini ini tidak dijadikan sebagai modal pemikiran tapi dijadikan dikotomik sebagi basis konflik dan pertentangan. Tak mengherakan bila terjadi takfir ( pengkafiran) antara satu pemikir dengan pemikir lain. Ibnu Sina, pengguna nalar Burhani (Rasional paripatetik), disesatkan oleh Al-Ghozali, pengguna nalar irfan-bayan (tasawuf-sunni). Bahkan dalam kitabnya, al-Munqid min al-Dholal, al- Ghozali mengkafirlan Ibnu Sina. Sementara, itu al-Ghozali dianggap bodoh oleh Ibnu Rusdy dalam kitabnya at-Tahafut fi at-Tahafut. Abu Hanifah dianggap telah membuat syari’at baru oleh Imam Syafi’i ketika mengunakan metodologi istihsan dalam yurisprudensi Islam. Sedangkan Syafi’i dianggap sesat oleh Ibnu Hazm dalam bukunya Ibthol al-Qiyas karena mengunakan analogi dalam istinbat al- ahkam (pengambilan konklusi hukum). Tak sekedar itu, Ibnu Hazm dengan tajam menyindir Syafi’i, dengan menyebutkan bahwa yang pertama kali mengunakan analogi adalah iblis. Lebih dari semuanya, Al-Hallaj, pengguna Nalar ifran ( mistik), mesti diesksekusi dengan cara digantung dan dibakar karena dianggap telah sesat oleh para ulama fikih pengguna nalar bayan.
Epistemologi Alternatif
Dalam sejarah politik dan pemikiran Islam, setelah wafatnya Rasulullah SAW, ummat islam terbagi kepada dua kelompok yang beritikai. Kelompok pertama meyakini bahwa sebelum rasul wafat, beliau telah mewasiatkan kepemimpinan. Sementara kelompok kedua berkeyakinan bahwa Rasulullah tidak membuat wasiat apapun tentang pengganti setelahnya. Secara politik, kelompok kedua mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pengganti Rasul. Dalam thelogi, kelompok kedua terpecah kedalam berbagai kelompok; Jabariyah, Qodariyah dan As’ariyah. Secara metodologis mereka terbagi kepada tiga gagasan epstemologi diatas; nalar bayani, burhani dan irfani.
Muhmamadiayah secara genealogi, mengambil pembaharuan Islam sebagaimana yang dikumandangakan oleh Muhammad Abduh, seorang pemikir ultrarasional dari mesir dengan konsepsi kembali kepada Al- Qur’an dan as- Sunnah (al-Ruju’ Ila al-Qur’an Wa as- Sunnah). Namun sayang, Muhammadiyah hanya mengambil bagian dari Abduh yang telah tereduksi oleh pemikiran sahabat dan muridnya yaitu Sayyid Rasyid Ridho yang berkarakter salaf dengan pendekatan tekstual-ekplanatif (Giora Eliraz, 2001). Bahkan tenyata Muhammadiyah mengambil secara apa adanya (taken for granted) gerakan Wahabi yang dikomandoi oleh Muhammad Bin Abdul Wahab dengan melakukan konspirasi poltik dengan Ibnu Su’ud didaratan Arab. Tak ayal lagi, pemikiran dan semangat Wahabi mendominasi wacana dan gerakan Muhammadiyah selanjutnya.
Sedangakan Wahabi merupakan kelanjutan dari pembaharuan pemikiran Ibnu Taymiyah yang bermadzhab Hanbali. Ahmad Bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, merupakan pemikir Sunni-as’ariyah yang sangat berpegang teguh pada pendekatan nash yang tekstual disamping Ibu Hazm dan Adu Dawud Adh-Dhohiri. Dalam sudut pandang genealogi ini, tak heran bila pada perkembangan selanjutnya, Muhammadiyah sangat didominasi oleh para pemikir bayani (tekstualis-eksplanatif). Bahkan didaerah-daerah, arus utama pemikiran muhamadiyah adalah Hanbalian. Disinilah letak fondasi rasionalisme tekstualis (ma’qul-al-lafdzi) Muhammadiyah dibangun. Rasional tapi masih berada dalam bayang-bayang paradigma teks.
Sejatinya, Muhamamdiyah segera membatasi diri dengan pendekatan bayani (tekstualis-ekplanatif-skriptuaralis) ini dan mulai mengapresiasi pendekatan burhani yang sesungguhnya (Rasional-demonstratif-kontekstual). Kemudian supaya tidak miskin dan kering secara spritual, Muhammadiyah jangan segan mengambil pendekatan sufitik seperti yang dilakukan Kyai Dahlan. Muhammadiyah harus melakukan harmonisasi tiga nalar dalam epitemologi Islam yang selama ini dipandang secara dikotomik; bayani, burhani dan irfani.
Dalam tataran epistemologis ini muhammadiyah dapat melakukan beberapa hal untuk pencerahan peradaban. Pertama, melalukan kontekstualisasi terhadap nash yang sudah ada dengan melihat makna lahir dan bathin. Kedua, Merasionalisasiikan pendekatan mistik dengan tanpa meninggalkan legitimasi dari teks. Ketiga, melakukan spiritualisasi terhadap nash yang selama ini dibaca secara makna lahir. Keempat, melalukan spiritualisasi terhadap pendekatan rasional yang sudah mendapat hantaman keras dari postmodernitas. Kelima, tetap mengapreasiasi pendekatan teks-teks yang ada sebagai bagian dari khazanah keilmuan islam.
Dalam bidang sains, Epistemologi ini merupakan shifting paradigm keilmuan yakni dari epistemologi normative-tekstual-bayani yang berakibat pada sulitnya mengadopsi dan mengelaborasi wawasan dan temuan baru, ke epistemologi yang bercorak intuitif-spiritual-irfani yang banyak berkaitan dengan etika dan teleologis pengembangan sains serta bercorak empiris-historis-burhani yang beradampak pada berbagai penemuan baru sebagaimana yang telah dicapai oleh pencerahan di Eropa. Wallahu ‘alam
Penulis: Peneliti The International Institute for Islam and Civilization (IIIC) Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Jakarta dan Ketua Umum DPD IMM DKI Jakarta
Timur Tengah Dan Ilusi Radikalisme
Oleh: Yayan Sopyani al-Hadi
Timur Tengah merupakan suatu kawasan yang menarik untuk didikusikan dan renyah untuk dikaji. Tentu, Timur Tengah yang dibahas bukan sekedar sutau wilayah geografis yang dipenuhi oleh gurun pasir dengan potensi minyak yang melimpah ruah.
Walaupun kajian Timur Tengah—dan umumnya timur secara keseluruhan—selama beberapa dekade berada dalam kerangka kolonialisme dan imperialisme untuk menguasai minyak seperti dicatat oleh Edward Said dalam Orientalism.
Namun yang tak kalah menarik, Timur Tengah merupakan suatu titik panjang dalam garis peradaban dunia yang tak mudah dihapus. Selama tujuh abad, Timur Tengah merupakan refresentasi peradaban Islam yang kokoh secara infrastuktur dan mapan dalam kapasitas keilmuan. Peradaban ini ditopang oleh dua basis epistemologis yang tangguh, yaitu spiritulaitas dan rasioalitas.
Namun, pasca abad pencerahan di Eropa (Aufklarung) dengan diawali oleh landasan kesadaran cogito ergo sum dan semangat positivistik, puncak prestasi peradaban dikuasai dan dikendalikan oleh Barat. Barat yang dalam beberapa dekade mengalami kegelapan kini tampil dengan wajah pencerahan. Yang menarik lagi, Barat hadir menjadi standar peradaban dunia dan menjadi ukuran keadaban semua bangsa. Bahkan, Barat menjadi superior dan Timur menjadi objek ‘peng-adaban’ menuju nilai-nilai universal yang disajikan oleh Barat. Barat menjadi bangsa penjajah. Penjajahan ini melahirkan sikap inferor, masokis dan narsis bagi timur seperti digambarkan dalam analisa postkolonial freudian.
Pengembara-pengembara ilmiah Barat datang dan mengkaji Timur dalam kerangka superioritas yang berlebihan. Kesadaran sejarah orang Barat menyatakan bahwa mereka adalah pusat dunia yang paling beradab, dimana dunia secara keseluruhan, mau atau tidak, atas kesadaran sendiri atau bukan, akan mengikuti dan meniru peradaban Barat.
Kesadaran sejarah orang Barat itulah yang mendorong mereka untuk melakukan imperialisme dan kolonialisme dengan ‘tujuan baik’ ingin membuat negeri-negeri Timur beradab dan berbudaya sebagaimana orang-orang Barat.
Tak mengherankan bila Timur selalu dibaca dalam paradigma yang salah dan mesti diluruskan. Beberapa pengembara Barat, memandang Timur dengan stigma yang negative Sir Francis Ricarhd Burton misalnya, membuat catatan-catan pengembaraan ke Timur (Mekkah-Madinah) dengan penuh praduga ekstrim bercampur anekdot yang tidak sopan (Robin Bidwell, Travelers in Arabia: 1989). Begitu juga yang nampak pada catatan
Sojourn with the Grand Sharif of Makkah karya Charles Didier atau tulisan Charles M. Doughty dalam Travel in Arabia Deserta.
Bahkan, novel fiktif karya Karl May, Oriental Odyssey I, In the Shadow of the Padishah Through the Desert membuat citra Timur (Islam) dengan buruk. May menulis, “para Arab, yang masih beraoma cipratan darah, bersujud dalam doa”. Lebih jauh May, menggamabarkan salah satu suku di Arab melakukan pembunuhan dan penjarahan setelah melaksanakan sholat subuh. Nampaknya, May ingin menggambarkan bahwa suku-suku yang merampok, menjarah, pengkhianat yang menindas, selalu digambar sebagi orang-orang taat beragama, berdzikir, shalat, membaca al-fatihah, berdoa.
Seakan-akan semua tindakan buruk itu mendapat perkenan dari agama atau sekurang-kurangnya amaliah keagamaan itu sama sekali tidak membekas didalam diri mereka.
Radikalisme Bukan Milik Timur.
Terpengaruh atau tidak oleh karya-karya pengembara Barat, Sadar atau tidak, sampai saat ini beberapa kalangan mengkorelasiakan Timur Tengah sebagai basis dan muara fundamentaliasme. Transmisi radikalisme yang melahirkan kekerasan dan menjadi fenomena kontemporer dalam pearadaban global saat ini selalu membawa Timur sebagai ‘biang keladi’.
Padahal menghubungkan fundamentalisme dan Timur mengandung problem teoritis dan teknis. Secara teknis, fundamentalisme belum tegas secara defenitif. Ketidakjelasan ini bukanalah tak ada artinya. Barat nampaknya memanfaatkan ketidakjelasan ini untuk menggunakan standar ganda. Dan secara teknis, radikalisme bukanlah milik Timur atau Barat.
Fenomena fundamentalisme lahir sebagai impuls dan resistensi terhadap modernisasi budaya ( Thomas Meyer, 2004). Istilah fundamentalisme mulai populer sejak dipublikasikannya ‘The fundamentals’ antara tahun 1910- 1915 di Amerika Serikat Bahkan pada tahun 1919 kaum Kristen Protestan mendirikan sebuah organisasi yang secara ekplisit menyebut fundamentalisme yaitu, “World’s Christian Fundamentals Association”. Dalam hal ini, istilah fundametalisme menjadi keyakinan Kristen dengan menempatkan diri untuk keperluan umum dan akademik.
Fundamentalisme Kristen mengangap bahwa semua budaya, politik, teologi adalah tidak berlaku apabila bertentangan dengan kata- kata dalam Alkitab. Mereka juga meyakini no one who deviates from the texs of the bible. Dan siapa saja yang menyimpang dari teks Bible tidak dapat menjadi Kristen yang baik dan benar walaupun dengan yakin menyatakan dirinya demikian. Gerakan fundamentalisme kristen Protestan di Amerika Serikat menuntut haknya untuk keputusan mayoritas demokrasi dan keputusan pengadilan dalam hal legalisasi aborsi dan larangan doa dalam sekolah.
Fundamentalisme juga hadir dalam ethnik- religious agama Hindu di India. Mereka memproklamirkan diri dalam organisasi- organisasi budaya seperti Vishma Hindu Parishad dan Rashtriya Sewak Singh. Bahkan fundamentalisme India muncul dalam kerangka partai politik seperti Shiv Sena dan Bharatiya Janata. Namun, fundamentalisme Hindu tidak seperti fundamentalisme Protestan yang mensakralkan teks Alkitab. Mereka tidak mempunyai teks Alkitab yang mengikat bagi semua pemeluknya. Dengan demikian fundamentalisme Hindu tidak berupaya untuk mensucikan teks. Adapun untuk membedakan dengan the other yang ‘sesat’, mereka kembali pada kejadian- kejadian simbolik yang direkam oleh tradisi, kemudian diintrepretasikan secara dogmatis.
Oliver Roy, dalam bukunya Globalized Islam, memandang bahwa fundamentalisme juga tidak semata-mata persoalan teologis, tetapi juga menyangkut pengesan identitas budaya kelompok yang hidup sebagai minoritas. Dengan demikian, fundamentalisme dan radikalisme bukan di tujukan kepada wilayah geografis. Fundamentalisme bukan milik Timur atau Barat. Dan menyudutkan Timur semata sebagai kawasan yang rawan benih radikalisme merupakan kerangka pikir yang rasis dan penuh ilusi. Wallahu ‘alam.
Penulis: Peneliti The International Institute for Islam and Civilization (IIIC) Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Jakarta dan Ketua Umum DPD IMM DKI Jakarta
Islam KTP = Muhammadiyah KTA?
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah tapi jangan mencari hidup di Muhammadiyah…” KH. Ahmad Dahlan
Kota Yogyakarta
Oleh : M. Rivai Tuhuleley
Islam di Indonesia merupakan agama terbanyak penganutnya dan terbesar di dunia. Jumlah yang cukup signifikan hampir 80an % jumlah yang beragama Islam dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia. Namun kwantitas jumlah penganut tidak berimbang dengan kwalitas umatnya. Indonesia masih memimpin dengan KKN-nya, pengangguran, sikap anarkis, pergusuran, dan lainnya. Perilaku dan mentalitas masyarakat kita belum seimbang dengan keberadaan organisasi-organisasi keagamaan yang ada di Indonesia. Artinya pendampingan keagamaan ke masyarakat entah kurang atau belum sama sekali. Sehingga nominal persentasi penganut Islam perlu juga dipertanyakan keberadaannya. Ataukah sebagian masyarakat muslim itu hanya diklaim sebagai ”Islam KTP”, yang dimana Islam hanya tertera di KTP sebagai formalitas belaka. Namun sikap dan perilakunya bukan sebagai seorang muslim. Kemanakah umat yang mayoritas itu? Muhammadiyah bergerak dimanakah? Muhammadiyah yang notabene merupakan oraganisasi keagamaan terbesar selain NU di Indonesia juga dipertanyakan perannya.
Hampir seabad sudah perjalanan Muhammadiyah, Umur yang cukup uzur bagi sebuah organisasi. Peran Muhammadiyah dalam membangun bangsa dan negara tidak bisa dipungkiri lagi. Berbagai peranan baik di dunia pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi dan lainnya menjadi bukti Muhammadiyah konsekeunsi merubah bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Dibangun diseantero pelosok Nusantara amal usaha, pendidikan dari Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT), kesehatan dengan PKU-nya, BMT, Koperasi, Pondok Pesantren, Panti Asuhan dan banyak lagi yang lain. Keberadaan amal usaha Muhammadiyah secara tidak langsung memberikan dampak positif khusus untuk warga Muhammadiyah maupun secara umum terhadap masyarakat Indonesia.
Kerangka awal terbentuknya Muhammadiyah tidak lepas dari peran pendirinya, KH Ahmad Dahlan. Gerakan Muhammadiyah dengan keorganisasian dan berbagai kegiatan amal usahanya tetap terpelihara dan menyatu dengan masyarakat. Implikasinya adalah gerakan Muhammadiyah mampu menjadi uswah (teladan) di tengah dinamika perubahan masyarakat.
Namun, tanpa didasari akan menjadi beban tersendiri. Paling tidak inilah yang disanggah Muhammadiyah sehingga gerakannya menjadi lamban. Kegiatan-kegiatan lebih merupakan rutinitas organisasi daripada yang bermuatan positif. Belum lagi orang-orang yang hanya memanfaatkan Muhammadiyah sebagai bagian penyanggah kehidupan ataupun menjadi batu loncatan pribadi maupun kelompoknya. Fenomena yang muncul beberapa waktu lalu, sengaja membuka mata lebar-lebar seluruh elemen yang ada di Muhammadiyah. Tidak hanya kader-kader yang coba diperebutkan tapi dalam bentuk penguasaan hampir di semua level amal usah menjadi target pribadi maupun kelompok tertentu. Hal ini membuktikan bahwa Muhammadiyah belum maksimal dalam menyeleksi perekrutan baik di amal usaha maupun pada jajaran pimpinan Muhammadiyah. Sehingga yang ada adalah kader ataupun pimpinan yang instan (jadi tanpa melalui proses).
Kader yang ada di amal usaha maupun yang ada di pimpinan Muhammadiyah seharusnya paham terhadap langkah-langkah pelembagaan yang menjadi landasan membangun kesadaran dan ikatan kolektif dalam memperjuangkan gerakan Muhammadiyah. Pemikiran dasar KH Ahmad Dahlan, 12 langkah dari KH Mas Mansur, Muqadimmah Anggaran Dasar, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Khittah Perjuangan Muhammadiyah, dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah merupakan rujukan dasar sekaligus perlu disistematisasi dalam konsep terpadu sehingga menjadi basis ideologi gerakan Muhammadiyah yang mengikat seluruh anggota Muhammadiyah dalam melaksanakan gerakan. Dengan mengamalkan rujukan yang telah disebutkan di atas bisa melahirkan kader yang benar-benar militan. Jadi tidak perlu kita pertanyakan lagi apakah kita hanya sebagai kader yang di klaim Muhammadiyah KTA yang hampir sama dengan Islam KTP tadi.
Dimana pun kita berada dan di posisi manapun kita diamanahi, mari bersama-sama kita membangun Muhammadiyah yang sudah berdiri yang telah diskenariokan oleh Allah SWT untuk menjadi organisasi uswah buat umat yang ada sekitar kita. Wallahualam…
Sumber:
- Haedar Nashir, Revitalisasi Muhammadiyah Jelang Satu Abad, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2005)
- Mukhaer Pakkanna & Nur Ahmad, Perlunya Tafsir Baru Gerakan Muhammadiyah (Jakarta: Muhammadiyah Menjemput Perubahan,2005)
*) – Staff Deplusospol BEM UAD
- Anggota LPI PDM Kota Yogyakarta
- Sekbid Hikamh PC IMM Djasman Alkindi K
|
Des 27 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Des 27 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Des 26 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Des 24 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Des 23 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Des 20 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Des 18 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Des 18 2009
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Artikel / Archives | |



Din Syamsuddin
IMM KOMISARIAT THARIQ BIN ZIAD
Jl. Karimata No.49 JEMBER-JAWA TIMUR
Email : thoriq_ziad@yahoo.com

30 01, 2008 at 1:42 pm
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Fastabiqul Khairat !!!