http://nanpunya.files.wordpress.com/2009/03/dahlan_1.jpg?w=265&h=337http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/archive/d/d0/20091228100515%21Nyai_Ahmad_Dahlan.jpg

Janji Allah Bagi Para Pengemban Dakwah

Dakwah wajib bagi setiap Muslim, baik dilaksanakan secara individual, secara berjamaah maupun melalui Negara. Dakwah merupakan urat nadi penentu tegak tidaknya Islam. Begitu pentingnya dakwah, maka Allah ‘Azza wa Jalla berjanji bagi para pengemban dakwah, dengan janji yang benar dan pasti akan terwujud, akan mengaruniakan kemuliaan, pahala yang tiada terputus, pertolongan, kemenangan dan Syurga.

1. Predikat terbaik bagi Ummat (khoiru Ummah)
“Kamu sekalian adalah sebaik-baik Ummat (Khoiru Ummah) y
ang diturunkan kepada Manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

2. Menjadi kelompok yang beruntung
“Hendaklah ada sekelompok orang diantara kamu yang mengajak kepada Islam (al-Khoir), menyeru kapada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

3. Pahala yang terus mengalir
“Jika Manusia mati, terputuslah amalnya kecualitiga macam: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)

4. Mendapat pahala dari orang yang engikuti
“Barang siapa memberi petunjuk kebaikan, maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikuti, dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim)

5.Bila Dakwah dilancarkan melalui Jihad, Allah ‘Azza wa Jalla berjanji akan mengampuni semua dosa, memberikan Syurga, pertolongan dan kemenangan yang dekat, sebagaimana tersebut dalam surah ash-Shoff: 10-13.
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan Jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu m
engetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam Syurga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”

Khatimah

Melihat janji-janji Allah yang demikian gamblang, tidak tergerakkah kita untuk segera terlibat dalam Dakwah?

Sikap Mukmin sejati, mendengar panggilan Allah untuk membela Agamanya, semestinya seperti orang-orang Hawariyyun yang siap menjadi penolong Agama Allah (anshorullah) ketika Nabi Isa Alaihis salam memanggilnya.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (Agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikutnya yang setia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan Agama) Allah?’, Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: ‘Kamilah penolong-penolong Agama Allah’, lalu segolongan dari bani Isroil beriman dan segolongan (yang lain) kafir. Maka kami berikan kekuatan kepada orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. ash-Shoff: 14)

Siapkah kita menjadi Anshorullah?
Bila kita tidak mau menolong Agama-Nya, bagaimana kita bisa berharap mendapatkan pertolongan Allah?

Wallahu A’lam bi ash-Showab

imm-di-awal-deket-assalamualaikum.jpg

 

 

 

 

 

Dakwah Fardiyah adalah dakwah dengan pendekatan personal/pribadi kepada objek dakwah. Dakwah fardiyah hanyalah salah satu aspek dari sekian banyak aspek dalam dakwah, seperti dakwah lewat tulisan, dakwah dengan ceramah-ceramha, tabligh-tabligh dan lain sebanginya.

Keungulan dari dakwah fardiyah dibandingkan dengan metode dakwah lainnya adalah dakwah dengan metode ini bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Hasilnya pun bisa lebih dipantau dan bisanya output yang dihasilkan jauh lebih berkualitas dibandingkan dakwah dengan metode lainnya.

Adapun tahapan-tahapan dakwah fardiyah adalah sebagai berikut :

1. Membina hubungan yang baik dengan objek dakwah

2. Membangkitkna iman yang mengendap dalam jiwa

3. Membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan ibadah-ibadah yang diwajibkan

4. Menjelaskan tentang kesyumulan ibadah, bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual-ritual shalat, puasa, zakat, dan haji saja.

5. Menjelaskan kewajiban berdakwah kepada sesama muslim. Bahwa keberagamaan kita tidak cukup hanya dengan keislaman kita sendiri.

6. Menjelaskan bahwa kewajiban diatas tidak mungkin dilaksanakan secara individu (infiradhi) tetapi harus dilaksanakan secara kolektif fan berjamaah

7. Menjelaskan jamaah-jamaah islam yang layak dijadikan tempat ia berjuang menegakkan islam ini.

Lalu, bagaimanakah metode-metode yang tepat digunakan dalam tiap tahapan tersebut ? berikut penjelasannya…

Tahap pertama yaitu membina hubungan yang baik dengan objek dakwah, adalah tahap yang paling menentukan. Disinilah akan tercipta taliful qulb (keterikatan hati) antara da’i dengan objek dakwahnya. Karena itulah tahap ini diletakkan pertama kali dalam tahapan dakwah fardiyah ini. Bila sudah tercipta keterikatan hati maka akan sangat mudah bagi kita “memasukkan” materi-materi atau nilai-nilai yang ingin kita dakwahi.

Tahapan selanjutnya adalah membangkitkan keimanan yang telah ada dalam dirinya. Hal ini sesuai seperti yang dicontohkan Rasullah SAW ketika awal-awal berdakwah di mekkah. Yang pertama kali terus ditanam oleh beliau adalah tauhidullah, keimanan yang kokoh kepada Allah. Tidak bergantung kepada Selain Allah. Hal ini bisa dilakukan dengan mengingatkan objek dakwah akan kebesaran dan nikmat-nikmat Allah yang bertebaran disekitarnya. Atau cara-cara lain yag sesuai dengan kondisi objek dakwah yang bersangkutan.

Selanjutnya, ketika keimanan telah tumbuh, maka da’i harus mulai memperhatikan baik kuantitas maupun kualitas ibadah objek dakwahnya. Karena dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan inilah seseorang bisa semakin dekat kepada Rabbnya dan semakin memperkokoh iman yang telah mulai tumbuh. Perhatikan, masalah ibadah disini hanya menyangkut ibadah ma’dah atau ibadah ritual bukan ibdah secara umum. Tahap selanjutnya baru dijelaskan mengenai kesyumulan ibadah, bahwa ibadah bukan hanya shalat, puasa, zakat, dan haji, akan tetapi aktivitas apapun yang dilakukan selama itu diniatkan karena Allah SWT, maka aktivitas tersebut adalah ibadah. Dengan begitu objek dakwah makin merasa bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah dan mulai merasakan lezatnya iman dan ibadah kepada Allah. Iman dan jiwanya menjadi hidup.

Kemudian, objek dakwah, mulai diperkenalkan dengan dakwah. Di tahap inilah objek dakwah mulai berganti “status” menjadi subjek dakwah. Objek dakwah mulai dikenalkan bahwa berislam dan menjadi sholah tidak cukup dinikmati sendiri. Tetapi Allah telah memerintahkan kita untuk berbuat amar ma’ruf nahi munkar. Disini juga mulai dikenalkan mengenai urgensi berdakwah kepada objek dakwah. Setelah itu objek dakwah juga mulai diperkenalkan dengan amal jama’i. Bahwa beban dakwah ini tidak mungkin dapat dipikul seorang diri. Tidak mungkin seorang menjadi “superman” dakwah tetapi yang ada adalah “supertim” dakwah yang bekerja dalam keteraturan dan harmoni.

Tahap terkahir adalah mengenalkan dengan jama’ah mana ia harus bergabung dan memberikann kontribusinya. Ada beberapa karakteriskitik jamaah yang pantas dan benar –insya Allah- untuk kita memberikan afiliasi kita kepadanya diantaranya adalah : jamaah yang megikuti manhaj (metode) Rasullullah dalam dakwahnya, yaitu mempersiapkan seoarn muslim untuk memiliki akidah yang kokoh, ibadah yang benar dan akhlak yang mempesona. Disamping itu jamaah tersebut haruslah mengambil islam secara utuh dan integral, tidak parsial atau setengah-setengah. Pun dalam melaksanakan islam. Selanjutnya, jamaah tersebut harus mempunyai imtidad ufuqi ‘ekspansi horizontal’ ke seluruh penjuru dunia untuk mempersiapkan sarana dan mengkokohkan fondasi yang luas bagi berdirinya negara islam. Terkahir jamaah yang patut diikuti adalah jamaah yang terorganisir dengan baik. Program-programnya teratur dan terencana sehingga mungkin untuk dilaksanakan. Adakah jamaah seperti itu? Kalau syaikh Mustafa Mansur mengatakan “berkat karunia dan taufiq Allah, jamaah seperti itu terpenuhi dalam jamaah Ikhwanul Muslimun”, maka di Indonesia!?

Sedangkan dalam melaksanakan dakwah fardiyah ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh para pelaksana dakwah fardiyah. Pertama bahwa tahapan dakwah fardiyah harus dilakukan secara tertib dan berurutan. Menyalahi urutan tahapan dakwah, dapat menyebabkan penolaan objek dakwah terhadap pesan-pesan dakwah. Keduam jangan terburu-buru dan tergesa-gesa. Jangan sampai karena ingin objek dakwah sampai kepada tahapan yang lebih tinggi d’i menjadi bertindak gegabah dalam meningkatkan tahapannya. Padahal ia belum mempunyai keyakinan dan penerimaan yang sempurna terhadap setiap tahpan yang dilalui. Ketiga, jalan dakwah islam harus benar-benar bersih, bersih seluruh prasyartnya deri prasangka negatif, bersih seluruh amal islaminya dari syubhat, bersih daran dan prasarananya dari najid, dan tentunya bersih pengembannya dari maksiat.

Demikian risalah singkat mengenai dakwah fardiyah dan hal-hal yang terkait dengannya. Sebagian besar isi dari tulisan ini disadur dari buku yang berjudul “7 Tahapan Dakwah Fardiyah” karya syaikh Mustafa Mansur. Semoga bermanfaat.

APAKAH SUDAH SAATNYA KITA TIDAK MEMERLUKANNYA?

================================================

berikan apresiasi anda di bawah ini

Dunia MP3

30 01, 2007

Download n ngedengerin musik yang loe suka, hehehe…

This check out!

1. MP3 INDONESIA ON-LINE

2. Dunia MP3

3. Firman MP3

4. Pak Denono

5. Nusairi

6. MP3 Gratisan di web link

7. Download Video Nasyid

This slideshow requires JavaScript.

Temen – Temen KoTA(click untuk lihat situs ini) n Mas Yuan(click untuk lihat situs ini) (Thariq Bin Ziad)

 

 

http://mdianapriyanto.files.wordpress.com/2008/05/rahmatabdullah1.jpg?w=319&h=319

Film Sang Pencerah Dirilis

Sutradatra muda, Hanung Bramantyo akan merilis film Sang Pencerah sebagai bentuk kenduri atas Milad Seabad Muhammadiyah. Film ini menceritakan tentang perjalanan sosok KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah.

“Saya sengaja mengambil periode pra hingga Muhammadiyah berdiri saja. Kisah sesudah Muhammadiyah berdiri tidak saya masukkan,” ungkap Hanung dalam jumpa pers yang dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin dan Walikota Yogya, Herry Zudianto.

Film bernuansa religi kedua yang dibuat Hanung ini berawal dari riset yang cukup panjang tentang Muhammadiyah dan tokoh pendirinya, KH. Ahmad Dahlan.

“Saya melakukan riset terlebih dahulu. Karena saya lihat banyak versi dari perjalanan seorang KH. Ahmad Dahlan yang belum tentu tepat,” ujar Hanung.

Hanung mengaku, sejauh ini belum menemukan tokoh yang pas untuk memerankan KH. Ahmad Dahlan. Yang dia inginkan, pemeran KH. Ahmad Dahlan betul-betul mirip secara fisik. Sedang pemain lain akan melibatkan publik figur.

Hanung berharap film ini nanti bukan dinilai sebagai propaganda ormas Islam terbesar di Indonesia. Tapi bisa mendekatkan para pengikut Muhammadiyah untuk mengenal lebih dekat pendirinya dan menyerap nilai-nilai nasionalisme dari seorang KH. Ahmad Dahlan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa Islam dalam, hal ini Muhammadiyah bukanlah aliran yang konservatif. Tapi mampu membuka diri kepada masyarakat,” ujar Hanung.

Ketika dimintai komentar tentang film Sang Pencerah ini, Din Syamsudin mengungkapkan bahwa dirinya tidak mewajibkan warga Muhammadiyah untuk menonton film. “ Tanpa saya wajibkan pun, warga Muhammadiyah akan mewajibkan diri mereka sendiri untuk nonton film ini,” ungkap Din dengan senyum lebar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.