|
Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, persepsi dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerahkan. Dengan sifat keintelektualannya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan-persoalan politik kebangsaan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan bangsa ini. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.
Berbicara tentang mahasiswa dan gerakannya sudah menjadi pokok bahasan dalam berbagai kesempatan pada hampir sepanjang tahun. Berbagai forum diskusi yang diselenggarakan, menghasilkan berbagai ragam tulisan, makalah, maupun buku-buku yang diterbitkan tentang hakikat, peranan, dan kepentingan gerakan mahasiswa dalam pergulatan politik kontemporer di Indonesia. Terutama dalam konteks keberpihakannya terhadap rakyat dalam memberikan jawaban atas masalah-masalah sosial politik yang terjadi dan berkembang di bumi pertiwi ini.
Dalam memainkan peranannya, gerakan mahasiswa didorong oleh panggilan nurani dan keberpihakan atas dasar ideologi terhadap masyarakat serta agar dapat berbuat lebih banyak bagi perbaikan kualitas hidup bangsanya. Berbagai bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa merupakan usaha melakukan koreksi atau kontrol atas sikap dan kebijakan politik penguasa yang dirasakan telah mengalami banyak distorsi yang merugikan masyarakat. Maka sejarah perubahan bangsa di dunia merupakan sejarah yang kebanyakan ditorehkan oleh mahasiswa untuk kepentingan bangsanya.
Kampus merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, persepsi dan pencerahan, tempat mahasiswa lahir menjadi kaum pemikir bebas yang tercerahkan. Dengan sifat keintelektualannya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan-persoalan politik kebangsaan. Ciri dan gaya mahasiswa terletak pada ide atau gagasan yang luhur dalam menawarkan solusi atas persoalan-persoalan bangsa ini. Pijakan ini menjadi sangat relevan dengan nuansa kampus yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.
Oleh karena itu, sejarah telah mencatat peranan yang amat besar yang dilakukan gerakan mahasiswa selaku prime-mover terjadinya perubahan politik pada suatu negara. Tengok saja di Indonesia adalah gerakan mahasiswa Indonesia sejak tahun 1908 yaitu jamannya Boedi Oetomo, 1928 jamannya sumpah pemuda, 1945 jamannya proklamasi Indonesia,1966 jamannya Soekarno,1975 jamannya malari, 1978 jamannya asas tunggal, 1998 jamannya reformasi.
Sementara kekuatan gerakan mahasiswa di luar negeri terjadi dalam serangkaian peristiwa penggulingan rezim, antara lain : Juan Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela tahun 1958, Ayub Khan di Paksitan tahun 1969, Reza Pahlevi di Iran tahun 1979, Chun Doo Hwan di Korea Selatan tahun 1987, Ferdinand Marcos di Filipinan tahun 1985.
Perwujudan kecintaan terhadap tanah air merupakan sebuah keniscayaan dalam kancah perpolitikan nasional. Oleh karena itu gerakan mahasiswa mempunyai agenda dan tujuan yang hampir sama di setiap elemen gerakan mahasiswa, baik Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan organisasi mahasiswa ekstra kampus seperti, KAMMI, HMI MPO,HMI DIPO, IMM, GMNI, FMN, dll. Agenda dan tujuan mereka adalah meliputi agenda kebangsaan yang lebih ditekankan pada perubahan positif untuk bangsa ini. Misalnya, dari ketidak berdayaan menjadi berdaya, dari tidak mandiri menjadi mandiri dari penguasa yang tiranik ke penguasa yang demokratis, dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) ke pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dari penjajahan (neo kolonialisme) dan intervensi asing ke terbebasnya negeri ini dari rongrongan bangsa lain, dari negara pengutang ke negara bebas utang, dsb.
Trend Dunia Global
Eksistensi dan posisi gerakan mahasiswa dihadapkan pada sebuah realitas dunia global yang tidak bisa dihindarkan. Arus globalisasi telah menyentuh berbagai sendi kehidupan manusia di dunia. Cepatnya arus globalisasi menurut William K.Tabb (2003) mampu membentuk rezim perdagangan dan keuangan dunia serta mendefinisikan ulang kesadaran pada tingkat yang paling dekat dan lokal, mempengaruhi bagaimana orang memandang dirinya, ruang gerak anak-anak mereka dan entitas mereka sehingga mengalami perubahan akibat kekuatan globalisasi ini. Persoalannya adalah bagaimana sikap gerakan mahasiswa terhadap realitas global ini. Apakah gerakan mahasiswa menolaknya secara radikal atau hanya cukup memahaminya atau mempersiapkan diri untuk ikut berkompetisi dan memposisikan diri sejajar dengan mereka secara wajar ?.
Gesekan dunia global menjadi tren dalam kondisi saat ini, karenanya seluruh lapisan santri perlu memahami secara benar tentang realitas-realitas dunia yang sedang mengalami pergolakan dalam berbagai unsur kehidupan. Melihat trend (Trend Watching) yang terjadi dalam pergeseran dunia global adalah kerangka dalam memahami apa yang sedang terjadi hari ini, dan apa yang akan kita lakukan di masa-masa yang akan datang. Tren yang terjadi hari ini adalah dominasi kekuatan global yang tidak bisa dihindarkan dalam ranah kesadaran ummat manusia. Dalam kondisi seperti ini, langkah yang harus dilakukan adalah pembangunan kemampuan dan kapabilitas (kompetensi) personal maupun kolektif.
Dari Membaca Ke Menganalisa
Gerakan mahasiswa sesungguhnya mereka kalangan yang setiap hari berkutat dengan keilmuan, ironis jika gerakan mahasiswa terjadi banyak kejumudan. Karenanya tradisi-tradisi yang ada diantaranya tradisi membaca harus di imbangi dengan tradisi menganalisa berbagai aspek persoalan dengan berpikir logis dan mendalam. Tipe masyarakat inilah yang menjadi miniatur lahirnya peradaban manusia maju dan menyejarah. Maju karena masyarakat ini menempatkan ilmu sebagai sinar dalam kehidupan. Menyejarah, karena mereka membuat sebuah kejutan bagi lahirnya paradigma baru bagi terciptanya masyarakat yang ilmiah (knowledge society).
Realitas ini sesuai dengan wahyu yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad saw, yaitu konsep membaca (iqra). Dengan turunnya wahyu yang pertama ini, maka ada sebuah perubahan berdimensi wahyu yang mampu memberikan jawaban atas kondisi kemanusiaan. Konsep pembacaan atas realitas baik yang bersangkutan dengan teologi, etika, visi kemanusiaan dan ilmu pengetahuan berawal dari proses pemahaman yang radikal akan hakikat dan subtansi nilai yang terkandung dalam surat tersebut.
Dimensi pembangunan gerakan mahasiswa agar ilmiah di awali dengan konsep membaca (iqra), sesuatu yang berhubungan bukan hanya dengan membaca teks dan naskah tetapi lebih dari itu, makna iqra bisa berarti menelaah, meriset, merenungkan, bereksperimen, berkontemplasi. Objeknya bisa berupa bacaan suci yang datang dari wahyu Allah swt. Dan juga bisa dari hadits Rasul maupun hasil karya manusia berupa handbook ilmu pengetahuan, juga berupa fenomena-fenomena alam maupun sosial.
Penguasaan ilmu merupakan kunci kesuksesan sebagai pengelola bumi. Hal ini terlihat dalam lima ayat yang pertama kali di terima oleh Rasulullah saw. Lima ayat ini menyentuh masalah yang paling esensial dari potensi manusia, yaitu akal dan batin (pikir dan zikir), juga disebutkan perangkatnya, pada ayat keempat dan kelima ini yaitu iqra (baca, riset, teliti), ‘allama (mengajarkan/transfer ilmu), dan qalam (alat tulis/alat penyimpan data/ memori
Dari Teks ke Kontekstual
Terkadang pemahaman mahasiswa atas teks-teks yang di pelajari di kampus bersifat tekstual. Karenanya perlu ada penyeimbangan pemikiran (fikrah) dalam memahami realitas. Kalangan mahasiswa tidak semestinya hanya berkutat memahami teks saja tetapi harus mampu melihat perubahan dunia yang cepat dari teks-teks yang dipelajarinya itu. Karenanya pemahaman teks yang menyebar dalam berbagai literatur harus menjadi penyelaras dalam kondisi jaman yang sedang berubah.
Paradigma mahasiswa di kampus harus bertumpu pada penyelarasan ideologis dengan ketajaman analisa terhadap persoalan-persoalan yang terjadi. Kalangan mahasiswa harus mampu membaca, mengkaji, dan berdiskusi secara logis, kritis, sistematis, dan komprehensif, serta mampu membedah persoalan dari berbagai aspek dan sudut pandang ilmu dan madzhab yang bersifat konstruktif. Hal ini harus menjadi kultur yang melekat.
Gerakan mahasiswa dalam konteks kekinian di tuntut untuk bisa bergaul dalam dimensi yang lebih luas. Maka sekarang, gerakan mahasiswa harus mampu memberikan jawaban atas kondisi jaman yang terus berubah. Jika tidak bisa, maka mahasiswa akan ditinggalkan oleh kemajuan jaman ini. Untuk mengisi kemajuan jaman yang tidak bisa ditahan maka mahasiswa harus memiliki beberapa kompetensi, yaitu (1) kemampuan berbahasa asing (2) kemampuan berorganisasi dan manajemen yang canggih (3) kemampuan membangun jaringan (net work).
Dari Tradisi ke Peradaban
Langkah-langkah selanjutnya yang paling rasional dalam menghadapi tatanan dunia global, bagi kalangan mahasiswa di kampus adalah membangun kesadaran bersama dengan meningkatkan kompetensi dan skil dalam memposisikan diri supaya sejajar dengan bangsa-bangsa Barat dalam bidang ilmu Pegetahuan. Karenanya budaya dan tradisi yang selama ini dilakukan di kampus untuk digeser kearah perubahan paradigma yang lebih rasional. Perubahan paradigma tersebut meliputi perubahan sikap dalam memahami budaya dan tradisi yang ada.
Tidaklah kaku jika mahasiswa membangun dialog peradaban (civilization) di kampus, minimal ada dua paradigma visi dialog pembangunan masyarakat berperadaban. Pertama, perubahan eksistensi dan identitas diri, yang mampu melahirkan paradigma kehidupan sosial baru dan merdeka, bebas dari penghambaan terhadap unsur-unsur materi, melahirkan kehidupan segar, integral dan profetik. Era kehidupan yang syarat dengan nilai kemanusiaan dan bervisi masa depan. Tonggak fundamental pertama ini merupakan visi kehidupan ummat manusia kearah pembebasan diri, dari kungkungan materi yang menjadi ideologinya.Visi kehidupan ini mengarahkan manusia pada ideologi yang sesungguhnya dan menjadi benteng kekuatan para pewaris peradaban. Ini merupakan asas fundamental bagi terwujudnya masyarakat berperadaban. Proses ideologisasi kedalam tubuh masyarakat secara radikal harus dilakukan. Proses ini perlahan tapi pasti, proses inilah yang disebut dengan fase penanaman akidah. Kedua, yaitu pola pembangunan struktur pengetahuan ummat manusia yang secara bersamaan dilakukan dalam kerangka membangun kesadaran untuk membaca atas realitas yang sedang terjadi.
Globalisasi dan Kemiskinan
Kemiskinan bukan ekses globalisasi. Begitu Hernando de Soto, seorang pemikir ekonomi dunia asal Peru, menegaskan. Kemiskinan di dunia, katanya, bukanlah akibat ekses globalisasi dan kapitalisme.
Kemiskinan dan globalisasi memang sudah lama menjadi bahan perdebatan, bukan hanya di kalangan ekonom-ekonom dalam negeri, tapi juga dunia. Perdebatannya pun tak pernah jauh-jauh dari bagaimana dampak globalisasi terhadap kemiskinan; menekan kemiskinan atau justru memperbesar kemiskinan.
Sejak proses globalisasi mulai berlangsung, kondisi kehidupan di hampir semua negara terkesan meningkat, apalagi jika diukur dengan indikator-indikator lebih luas. Namun, seringkali pula peningkatan itu hanya ada dalam hitung-hitungan di atas kertas. Negara-negara maju dan kuat memang bisa meraih keuntungan, tapi tidak negara-negara berkembang dan miskin.
Pengalaman sudah membuktikan sejak proses globalisasi bergulir muncul pula isu-isu seperti perdagangan global yang tidak fair, juga sistem keuangan global yang labih yang menelorkan krisis. Dalam kondisi tersebut, negara-negara berkembang dan miskin berulang kali terjebak jeratan utang yang justru jadi beban. Belum lagi bermunculan rezim hak properti intelektual, yang malah menghabisi akses masyarakat miskin untuk mendapat obat-obatan dengan harga terjangkau.
Dalam proses globalisasi, seharusnya uang mengalir dari negara kaya ke negara miskin. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi justru sebaliknya. Sementara negara-negara kaya memiliki kemampuan untuk menahan risiko fluktuasi kurs dan suku bunga, negara-negara berkembang dan miskin menanggung beban fluktuasi tadi.
Fakta-fakta tersebut jelas tidak menjadikan De Soto, juga kita, antiglobalisasi. Soto hanya menunjuk kemiskinan di negara berkembang dan miskin bukan karena globalisasi tapi karena pemerintah tak memberi kesempatan pada rakyatnya untuk masuk ekonomi pasar. Karenanya, pemerintah dianggap perlu memformalkan sektor informasl. Caranya dengan legalisasi usaha-usaha informal dan memberikan sertifikat atas lahan dan aset-aset sektor informal tadi. Soto mengusulkan agar penduduk, usaha informal, dan petani miskin diberi sertifikat sehingga bisa dengan mudah mendapat pinjaman modal perbankan, yang tak lain korporasi besar. Pemberian sertifikat itulah yang kemudian disebutnya sebagai kodifikasi hukum.
Gagasan boleh saja. Reformasi hukum, harus. Tapi, ingat juga siapa yang bakal dihadapi sektor informal –dengan bekal sertifikat dan pinjaman perbankan yang tak seberapa– setelah mendapat akses ekonomi pasar? Korporasi-korporasi besar mancanegara, bermodal besar, berjaringan kuat, dan telanjur mendapat akses jauh lebih besar lantaran pemerintah menandatangani pembukaan akses pasar alias globalisasi.
Petani miskin kita, dengan modal sertifikat dan pinjaman perbankan tak seberapa, setelah mendapat akses ekonomi pasar, ‘dipaksa’ menghadapi petani-petani negara maju bertameng subsidi dan proteksi pemerintah. Bukankah ketidakseimbang itu yang jadi sebab mandeknya perundingan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)?
Kita memang tidak seharusnya antiglobalisasi. Kita juga perlu terus melakukan reformasi di bidang hukum, termasuk yang terkait perdagangan bebas dan pembukaan akses pasar. Tapi, kita perlu juga mewaspadai akibat globalisasi terhadap proses pemiskinan. Globalisasi mungkin tidak akan memiliki ekses pada kemiskinan, jika pemerintah tahu benar cara melindungi sektor informal domestik dalam keterbukaan akses pasar. Tanpa perlindungan itu, gagasan Soto boleh jadi hanya berarti bagi satu dua korporasi besar.
Membangun Pendidikan, Mengatasi Kemiskinan
Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.
Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok, maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu. Sebab, pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa. Karena itu, setiap bangsa yang ingin maju, maka pembangunan dunia pendidikan selalu menjadi prioritas utama.
Kisah Jepang, ketika luluh lantak akibat meledaknya bom di Nagasaki dan Hirosima adalah contoh nyatanya. Ketika itu, Jepang secara fisik telah hancur. Tetapi tak berselang beberapa waktu setelah itu, Jepang bangkit dan kini telah berdiri kokoh sebagai salah satu negara maju. Dalam konteks inilah, salah satu kunci utama keberhasilan Jepang adalah pembangunan dunia pendidikan, yang pada gilirannya membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) ditetapkan sebagai prioritas.
Bagaimana dengan Indonesia? Hampir tak ada yang membantah bahwa kualitas pendidikan di Indonesia saat sekarang ini belumlah terlalu bagus, alias jeblok. Bahkan, kalau sedikit lebih ekstrim, kita dapat menyebut kualitas pendidikan kita anjlok, rendah dan memprihatinkan. Keberadaan atau posisi kita jauh di bawah negara-negara lain. Hal itu terlihat dari angka Human Development Indeks (HDI) yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga internasional, yang menunjukkan bahwa posisi kualitas sumber daya manusia Indonesia sangatlah rendah.
Kemudian, pada saat yang sama tingkat kemiskinan di negeri ini sungguh fantastis. Sangat besar dan mengkhawatirkan. Kita semua paham bahwa kemiskinan kini merupakan simbol yang tentunya sangat memalukan. Besarnya angka kemiskinan di Indonesia saat ini setara dengan kondisi 15 tahun yang lalu. Berdasarkan data (BPS), jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 36,1 juta orang atau 16,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Tingkat kemiskinan dan pengangguran di Indonesia masih paling tinggi di antara negara-negara ASEAN. Demikian pula dalam indeks pembangunan manusia HDI, Indonesia masih menempati peringkat 111 dari 175 negara di dunia. Posisi ini jauh di bawah negara tetangga Malaysia (76) dan Filipina (98).
Beberapa waktu yang lalu, Bank Dunia juga mengeluarkan data terbaru perihal kemiskinan kita. Banyak pihak terkejut dengan pernyataan ini. Tak dapat kita bayangkan, sesuai data Bank Dunia, lebih dari 110 juta jiwa penduduk Indonesia tergolong miskin atau setara dengan 53,4 persen dari total penduduk. Suatu jumlah yang amat fantastis. Hampir separoh penduduk Indonesia. Hal ini tak pernah kita duga sebelumnya.
Dalam ukuran yang lebih mikro lagi, jumlah ketidaklulusan siswa SLTP dan SMU tahun 2006 ini, tergolong tinggi. Bahkan di beberapa sekolah ada yang tingkat kelulusannya nol persen. Suatu realita yang sangat memalukan. Padahal, standar kelulusan yang ditetapkan Depdiknas tidak terbilang tinggi.
Persoalannya, bagaimanakah masa depan bangsa ini? Atau bagaimana kualitas SDM kita? Harus diakui bahwa persoalan kualitas sumber daya manusia (SDM) memang berkaitan erat dengan mutu pendidikan. Sementara mutu pendidikan sendiri masih dipengaruhi oleh banyak hal dan sangat kompleks. Misalnya, bagaimana kualitas dan penyebaran guru, ketersediaan sarana dan prasarana, sistem pendidikan, dan lain-lain. Hal ini sering kita sebut dengan istilah faktor utama.
Salah satu hal yang menjadi sangat penting untuk mengatasi hal tersebut di atas, adalah dengan menumbuhkan political will pemerintahan sekarang ini untuk lebih memperhatikan sektor pendidikan. Bagaimana pemerintah misalnya mau menempatkan persoalan pendidikan sebagai salah satu prioritas dalam pengambilan kebijakannya. Pembangunan pendidikan adalah modal utama dalam membangun suatu bangsa. Sebab, pendidikan terkait dengan kualitas SDM. Maka, jika bangsa ini ingin maju, maka pembangunan dunia pendidikan adalah syarat mutlak yang harus dilakukan.
ALIRAN SESAT & DAKWAH KITA
Negeri kita ini nampaknya merupakan sebuah lahan yang sangat subur bagi
tumbuh dan berkembangnya berbagai aliran keagamaan, termasuk aliran keagamaan yang sesat dan menyesatkan. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat kita pernah dihebohkan dengan kehadiran aliran yang menamakan dirinya Jamaah Salamullah, yang dipimpin Lia Aminuddin alias Lia Eden yang mengaku sebagai penjelmaan malaikat Jibril. Belum lagi orang lupa terhadap aliran tersebut, sejak beberapa pekan ini masyarakat kita diresahkan dengan tampilnya Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dengan pemimpinnya yang bernama Ahmad Moshaddeq alias Abd. Salam, yang mengaku sebagai “Nabi” dan “Rasul Allah”. Sementara keterkejutan belum lagi hilang, beredar pula Ajaran Al-Qur’an Suci dan Pengajian Hidup di Balik Hidup.
Sesuai pernyataan pimpinan Aliran-aliran tersebut, mereka mempunyai keyakinan dan ajaran yang bermacam-macam. Aliran Salamullah misalnya, meyakini bahwa Lia Aminuddin adalah Imam Mahdi yang dibaiat oleh Malaikat Jibril. Selain itu Lia juga diyakini sebagai Maryam dan anaknya yang bernama Ahmad Mukti dibaiat sebagai Nabi Isa. Menurut aliran ini, Lia datang bukan hanya untuk menyelamatkan bangsa Indonesia, melainkan juga untuk menyelamatkan dunia. Sementara itu, Al-Qiyadah Al-Islamiyah meyakini bahwa Ahmad Moshaddeq adalah Al-Masih Al-Maw’ud yang akan melanjutkan tongkat estafeta kerasulan yang pernah dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelumnya. Sebagai pertanda keimanan seseorang kepada Moshaddeq, maka setiap orang yang mengimaninya diharuskan bersyahadah atau membuat pernyataan sebagai komitmen bahwa orang itu benar mengimani Moshaddeq sebagai Al-Masih Al- Maw’ud dan Rasul Allah. Aliran ini meskipun menyatakan berpegang pada Al-Qur’an, namun tidak mewajibkan pengikutnya melakukan shalat lima waktu, puasa dan haji. Shalat yang wajib dilakukan adalah shalat tahajjud. Adapun Aliran Al-Qur’an Suci meyakini imam tertinggi dalam Aliran ini sebagai Rasul Allah. Mereka tidak mengakui Hadits dan Sunnah Nabi. Menurut mereka, shalat tidak wajib, puasa dan haji belum saatnya. Qiraah Al-Qur’an tidak boleh dilagukan. Shalat dilakukan tanpa harus berwudhu terlebih dahulu, karena manusia sudah suci sejak lahirnya. Seseorang boleh berhubungan intim dengan saudara iparnya. Seperti halnya ketiga aliran yang telah dikemukakan, Pengajian Hidup di Balik Hidup, dengan pemimpinnya yang bernama Mujono Abdullah, juga meyakini bahwa Mujono telah mendapat wahyu dan pernah mi’raj ke Sidratul Muntaha. Aliran ini juga tidak meyakini syafaat dari Nabi Muhammad saw.
Memperhatikan keyakinan dan ajaran dari beberapa aliran keagamaan seperti telah dikemukakan di atas, kiranya jelas bahwa keyakinan dan ajaran dari aliran-aliran tersebut bertentangan dan merupakan penyimpangan dari keyakinan dan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi dan Rasul Allah Muhammad saw. Atas dasar kenyataan ini tidak mengherankan kalau munculnya aliran-aliran keagaman tersebut menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, khususnya umat Islam. Pasalnya, karena aliran-aliran ini masih mengaitkan dirinya dengan keyakinan Islam.
Permasalahannya sekarang adalah, mengapa aliran-aliran sesat semacam itu bisa dengan mudah tumbuh dan berkembang serta mendapatkan tempat di hati sebagian warga masyarakat kita. Menurut analisis sementara kalangan, aliran-aliran semacam itu bisa tumbuh dan berkembang di negeri ini, antara lain disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini. Pertama, pada era reformasi seperti sekarang ini, membuat orang merasa bebas mengekspresikan apa saja, yang kadang-kadang kebablasan, sehingga apa saja, termasuk keyakinan dan paham yang aneh-aneh, sepertinya diperbolehkan. Kedua, pada situasi bagi kehidupan masyarakat kita dibelit berbagai permasalahan dan kesulitan, baik di bidang sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Maka tidak sedikit orang yang menanti datangnya “sang penolong dan sang penyelamat yang diyakini sebagai Ratu Adil atau Imam Mahdi”. Situasi semacam ini bisa dimanfaatkan dengan mudah oleh oknum-oknum yang ingin mencari keuntungan, baik yang bersifat politis, ekonomis maupun sosial. Ketiga, kemunculan aliran-aliran sesat itu dapat dijadikan media untuk mencari popularitas dalam rangka meraih keuntungan-keuntungan, baik materiil maupun spirituil. Keempat, sebagian umat kita, ternyata kondisi imannya masih sangat labil, di samping minimnya pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. Kondisi semacam ini membuat mereka mudah terpengaruh dan terperangkap oleh ajaran-ajaran sesat, apalagi kalau disajikan dengan kemasan yang menarik. Kelima, longgarnya aturan perundangan yang berkaitan dengan pendirian dan pengembangan aliran keagamaan. Sampai saat ini belum ada aturan yang mengatur paham dan aliran keagamaan apa yang boleh dan tidak boleh tumbuh dan berkembang di negeri ini. Keenam, dakwah kita selama ini, termasuk yang diselenggarakan Muhammadiyah ternyata tidak mampu menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Ada kalangan-kalangan tertentu, yang mungkin jumlahnya sangat besar, yang belum tersentuh oleh dakwah yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Dakwah seperti Muhammadiyah.
Ke depan, untuk menghadapi aliran sesat semacam Al-Qiyadah Al-Islamiyah dan untuk menangkal jangan sampai bermunculan aliran-aliran lain semacam itu, maka kita perlu segera meningkatkan penyelenggaraan dakwah kita dengan jalan antara lain melepaskan kehidupan masyarakat kita dari belitan permasalahan sosial yang tengah mereka alami, dan juga menata penyelenggaraan tabligh kita. Belitan permasalahan sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, kebodohan dan keterbelakangan, sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk meraih tujuan-tujuan tertentu, baik politis, ekonomis maupun sosial. Maka meningkatkan ketahanan mereka dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan sebagainya, dalam bentuk memperbaiki kualitas hidup dan kehidupan mereka adalah merupakan salah satu cara untuk membentengi mereka dari tipu daya dan bujuk rayu aliran-aliran sesat itu. Di samping itu untuk menanggulangi dan melindungi masyarakat kita dari pengaruh aliran-aliran sesat, maka penataan, konsolidasi dan revitalisasi tabligh kita, perlu dan mutlak harus dilakukan. Khusus dalam rangka menghadapi aliran-aliran sesat itu, kita harus segera menyusun strategi dan perencanaan tabligh yang matang, baik jangka panjang maupun jangka menengah dan jangka pendek.
Ayo kita cegah Global Warming
Semua seharusnya udah tau mengenai issue yang satu ini deh. Issue mengenai Global Warming bener-bener lagi mendunia. Dimana-mana menyerukan supaya kita turut serta mencegah global warming. Di semua benua sedang giat-giatnya mengadakan berbagai event untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menggugah orang-orang untuk turut andil dalam aksi global warming ini. Semua beritanya jg ada dimana-mana, di koran, di TV, bahkan sampai ke konser-konser musik menggusung tema yang sama. Nah, yang jadi bahan pertanyaan di kepala saya sekarang adalah apakah kita hanya sekedar tau dan membaca atau menonton berita ttg Global Warming ini tanpa bertindak apa-apa, ataukah kita bener-bener prihatin sama keadaan bumi saat ini dan bener-bener bertekad untuk membantu mencegah terjadinya global warming tersebut ??
Buat yang belum tau mengenai apakah global warming itu, saya coba untuk menceritakan sedikit apa yang saya tau dan yang saya dapetin dari sumber-sumber yang sebenernya ada banyak di internet. Global Warming adalah kondisi dimana perubahan iklim dunia sekarang sudah benar-benar ekstrem. Cuaca dari panas menyengat tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat, badai muncul dimana-mana, dan lain sebagainya, yang intinya pasti tidak menyenangkan dan membuat kekuatiran dimana-mana. Perubahan kondisi alam seperti itu menyebabkan banyak sekali dampak. Paling ekstrem menurut saya adalah naiknya kuantitas air dikarenakan es di kutub yang mulai mencair sedikit demi sedikit. Selain itu juga pastinya menyebabkan berbagai gangguan kesehatan dan beberapa jenis species hewan di bumi terancam kelangsungan hidupnya (contoh : si beruang kutub yang cute and keren itu kehidupannya sedang terancam banget sekarang). Serem ya …

Apa sih yang menyebabkan kondisi bumi jadi parah seperti ini ? Sayangnya, hal ini disebabkan oleh manusia sendiri loh, artinya dalam skala kecil ya kita-kita ini biang keladinya. Semakin tinggi teknologi dan kemajuan jaman, ternyata menuntut banyak pengorbanan besar dari alam. Pohon-pohon di hutan ditebangi sampai hutan menjadi gundul, atau hutan-hutan dibakar sehingga hasil pembakarannya menimbulkan gas CO2 yang jumlahnya banyak. Selain itu, kemajuan teknologi dan industri juga menyebabkan jumlah asap pabrik dan asap kendaraan bermotor (baca = CO2) semakin memenuhi atmosfer bumi. Semakin banyaknya jumlah gas CO2 yang berkumpul di atmosfer itu menyebabkan panas matahari yang masuk ke bumi tidak semuanya bisa dipantulkan kembali ke atas, sehingga terjadi efek rumah kaca yang otomatis menyebabkan suhu bumi menjadi lebih panas dan semakin panas dari detik ke detik. Serem gak sih ? Kebayang gak sih kalau bumi ini udah semakin panas ? Jakarta aja sekarang panasnya udah amit-amit, gimana Jakarta di tahun-tahun mendatang ?? Serem !!!
Nah, kalau sudah mengerti apa itu Global Warming dan penyebabnya dan dampaknya buat kita, pertanyaan selanjutnya (seharusnya) adalah bagaimana dan apa yang harus kita lakukan untuk mencegah Global Warming itu ? Pastinya ada hal-hal kecil dan mudah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dong. Beberapa hal yang dapat kita lakukan tersebut saya ambil dari beberapa website, antara lain :
- Mengganti lampu neon biasa di rumah dengan lampu fluorescent yang hemat energi.
- Cek jumlah atau tekanan angin ban kendaraan setiap bulannya biar bensin gak boros gara-gara ban kempes.
- Cek saringan atau filter udara kendaraan setiap bulannya.
- Kalau punya mesin cuci piring, hanya menggunakannya kalau cucian piringnya bener-bener udah penuh.
- Menggunakan kertas-kertas atau material lainnya yang berasal dari bahan recycle.
- Kalau pakai water heater, diusahakan pemanasnya tidak melebihi 120 derajat Fahrenheit (kalau mau tau celciusnya, itung sendiri ya.. atau barangkali ada yg mau bantu ??)
- Rajin-rajin bersihin filter AC di rumah.
- Kalau mandi shower, jangan lama-lama terutama buat yang pake water heater, biar menghemat energi dan biaya dari water heaternya itu loh.
- Kalau mau belanja sesuatu, belinya di daerah sekitar rumah aja biar menghemat energi dari jarak antara rumah dan toko. Misalnya, kalau ada pasar traditional deket rumah yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, gak usah beli ke carefur yang lebih jauh yang musti naek mobil.
- Beli barang yang gak menggunakan banyak packaging. Makin sedikit packagingnya, artinya makin sedikit juga sampah yang harus dibakar.
- Kalau punya uang, beli mobil hybrid –> Indonesia belon ada sih, tapi kalau udah masuk mungkin bisa dijadiin pilihan utama buat yang mau beli mobil.
- Beli mobil yang irit bahan bakar. Kalau bisa yang 1000 cc kenapa musti pake yang 2500 cc yang artinya makin gede cc nya, makin boros bensin.
- Kalau mobilnya kosong, napa nggak bareng-bareng sama temen-temen laen yang searah dan setujuan ?
- Yang punya sepeda bisa ikutan komunitas “Bike to Work”, ato yang laen bisa naek kendaraan umum daripada naek mobil pribadi.
- Jangan kelamaan membiarkan kendaraan dalam kondisi idle. Kalau kena macet parah ato pas di lampu merah, mending mesinnya dimatiin dulu daripada nyala n knalpot ngepul terus.
- Menanam tanaman dan pohon di rumah. Selain pemandangan jadi asri, udara jg lebih sejuk, dan yang pasti tanaman dan pepohonan akan membantu penyerapan CO2.
- Ganti barang-barang yang boros energi. Misalnya, kompor yang gasnya boros, mesin cuci yang boros listrik, dll.
- Daripada pake pengering pakaian, lebih baik pake tali jemuran aja kalau abis cuci baju.
- Kalau punya alat pemotong rumput, pilih yang manual daripada yang pake listrik. Selain hemat biaya listrik, otot tangan jg jadi tambah kekar tuh.
- Selalu cabut colokan listrik kalau gak terpakai. Contohnya, kabel TV dicabut kalau udah gak nonton TV lagi, jangan dibiarin aja tetep nempel di colokannya.
- Beli makanan organik, karena makanan yang mengandung kimia berasal dari pabrik, si penghasil limbah.
- Kalau pergi ke supermarket, bawa tas kain aja daripada nenteng plastik blanjaannya. Plastik itu bahan yang paling susah direcyle loh.
- Matiin komputer kalau gak dipake. Lebih hemat energi listrik kalau komputer kita dalam “sleep mode” daripada nyalain screensaver.
- Jangan sering-sering pergi naek pesawat terbang, karena pesawat terbang paling menghabiskan banyak bahan bakar loh.
Ternyata ada banyak sekali cara buat kita turut berpartisipasi dalam mencegah Global Warming ini. Tingal pilih-pilih mana yang bisa kita lakukan dan lakukanlah dengan konsisten. Saya yakin, kalau semua manusia di bumi membantu dengan hal-hal kecil, bumi masih bisa diselamatkan kok. Posted by Mellz’s Corner BLOGSPOT
|